Menghilangkan Gagap Teknologi (GAPTEK) Mengembangkan Kompetisi

Globalisasi yang telah melanda berbagai kawasan dunia dewasa ini, menyebabkan persaingan makin tajam yang tidak lagi dibatasi oleh sekat geografis. Iklim semacam ini menem­patkan kompetisi pada prioritas paling  utama. Dalam kondisi yang demikian, perhatian terhadap prinsip efektifitas, efisiensi dan  profesionalisme  tinggi menjadi tumpuan harapan  akan kemampuan  bersaing, sehingga era ini ditandai oleh  pernya­taan bahwa, hanya orang yang mampu menawarkan  keahlian dan mempunyai kelebihan yang akan dapat bersaing.

Perkembangan  semacam ini menyebabkan  mahasiswa yang sedang belajar di perguruan  tinggi untuk menyiapkan masa depan, termasuk mahasiswa perguruan tinggi agama Islam (PTAI), dituntut untuk makin kompetitif dalam menampilkan diri sebagai seorang profesional. Nilai kompetitif seorang mahasiswa sebenarnya semata-mata tidak terletak pada kecerdasan intelektual yang ditunjukkan dengan indeks prestasi (IP) yang tinggi, tetapi juga kecerdasan spiritual dan emosional, serta kemampuan mereka dalam menguasai teknologi.

Kondisi tersebut menuntut perubahan paradigma mahasiswa, dari sekedar ”kutu buku” yang hidupnya hanya belajar, berubah menjadi seorang aktifis yang handal dan menguasai teknologi. Untuk itu, diperlukan suatu organisasi kemahasiswaan yang mampu memberikan bekal semua kecerdasan yang ditunjang dengan penguasaan piranti teknologi yang memadai.

Untuk mencapai harapan tersebut, maka semua organisasi kemahasiswaan, baik organisasi intra kampus (OMIK) maupun organisasi ekstra kampus (OMEK) harus dikelola secara profesional, yaitu senantiasa melakukan sesuatu yang benar dan baik (do the right thing and do it right). Konsekuansinya adalah selalu mengembangkan tingkah laku dan tindakan strategis yang cermat untuk menyongsong masa depan yang lebih cerah.

Profesionalisme juga penting untuk memacu setiap mahasiswa dalam menghadapi persaingan pada saat mereka lulus dari perguruan tinggi. Sebab mutu lulusan juga menjadi tolak ukur untuk mengetahui tinggi rendahnya kualitas perguruan tinggi di lingkungan pasar. Hal ini ditunjukkan melalui kemampuan lulusan untuk secara langsung terlibat dan memenangkan persaingan dalam lapangan kerja. Hipotesisnya adalah, semakin banyak lulusan yang memasuki sektor kerja, maka perguruan tinggi itu nampak semakin berkualitas dan diminati oleh banyak orang. Demikian sebaliknya, semakin sedikit alumni yang memasuki sektor kerja, maka semakin nampak tidak berkualitas dan dijauhi oleh banyak orang.

Untuk melahirkan lulusan yang berkualitas dan mampu bersaing secara global, tidak cukup hanya dengan bekal yang diperoleh di dalam kelas, tetapi juga di luar kelas melalui berbagai organisasi kemahasiswaan yang ada. Disinilah peran strategis OMIK dan OMEK untuk berkontribusi dalam mempersiapkan mahasiswa menjadi lulusan yang handal. Lulusan yang handal, paling tidak ditentukan oleh 3 indikator, yaitu: (1) penguasaan keilmuan yang luas, (2) penguasaan bahasa asing yang bagus, dan (3) penguasan perangkat teknologi informasi yang memadai. Khusus yang terakhir ini, tidak hanya dikuasai pada saat lulus, tetapi juga ada saat mahasiswa. Sebab berbagai kebutuhan selama proses perkuliahan sangat dekat dengan teknologi. Untuk itu, seharusnya dalam kondisi sekarang ini sudah tidak ada lagi mahasiswa yang gagap teknologi, misalnya menggunakan internet. Sebab internet merupakan sumber belajar yang kaya akan informasi. Mahasiswa yang akrab dengan internet, akan mampu menyajikan berbagai ilmu dan informasi yang aktual dan kontekstual, sehingga mereka nampak kehebatannya.

Akhir-akhir berkembang suatu slogan dalam bentuk pertanyaan mendasar, siapakah orang yang hebat itu ? Orang yang hebat adalah orang yang cepat menangkap informasi. Orang yang cepat menangkap informasi, berarti dia lebih tahu dulu dari orang lain. Bahkan tidak mustahil, informasi itu bisa dijual dan menghasilkan uang. Betapa mahalnya suatu informasi, karena bisa menjadikan orang kaya hanya gara-gara “jualan” informasi. Bahkan ketika kita mendengarkan informasi baru dari orang lain yang kita sebelumnya tidak tahu, kadang-kadang kita merasa bodoh, kenapa kita tidak tahu informasi itu sejak lama. Untuk itu, apa yang pernah disampaikan oleh Al-Ghazali “Semakin bertambah ilmuku, semakin tahu kebodohanku” benar adanya dalam konteks pemahaman terhadap teknologi informasi dan berbagai ilmu pengetahuan lainnya.

Di era persaingan global ini, upaya untuk mencetak mahasiswa yang menguasai teknologi informasi yang diharapkan nantinya menjadi lulusan yang handal dan “siap pakai”, mandiri dan berkualitas akan menjadi tuntutan dan harapan semua pihak. Persoalan ini tidak hanya menjadi tanggungjawa perguruan tinggi atau kampus semata, tetapi juga organisasi kemahasiswaan. Disinilah pentingnya organisasi kemahasiswaan bersifat akomodatif untuk mengembangkan program-programnya secara lebih praktis-pragmatis. Namun demikian, sebagai lembaga kader, OMIK dan OMEK harus tetap memegang prinsip-prinsip etika organisasi dan etika sosial yang dibingkai dengan nilai-nilai religius, tanpa harus terperangkap pada kepentingan sesaat dan segmentatif. Dengan demikian, wajah organisasi kemahasiswaan sebagai “kawah candradimuka” bagi mahasiswa akan semakin kokoh dan berdiri tegak di atas landasan teologis, akademis, dan yuridis yang benar. Apabila organisasi kemahasiswaan dapat melaksanakan demikian, maka wajah kampus sebagai masyarakat kecil (small society) dan komunitas ilmiah-religius (religius-scientific community)iologis yang harus mendukung hidup suburnya tradisi ilmiah-religius, yakni berkembangnya wawasan berfikir ilmiah yang bersendikan pada ajaran agama masih tetap terjaga dengan baik, karena dihuni oleh para mahasiswa yang berkualitas, kompetitif, dan menguasai teknologi.

Untuk mendukung cita-cita ini, maka diperlukan penataan organisasi kemahasiswaan yang lebih efektif. Organisasi kemahasiswaa yang efektif ditandai dengan visi dan misi yang jelas, program yang realiabel, dan tujuan yang operasional. Dengan ini diharapkan, para lulusannya akan lebih kompetitif di masa depan.

Dalam menghadapi pasar bebas dunia tahun 2020 nanti, lulusan perguruan tinggi kita tidak hanya bersaing dengan lulusan perguruan tinggi dalam negeri lainnya, tetapi juga lulusan pendidikan tinggi negara tetangga semacam Singapura, Malaysia, dan Pilipina, bahkan perguruan tinggi negara-negara maju semacam Amerika, Jepang, Inggris, Jerman, dan Perancis. Pertanyaannya sekarang adalah, mampukah kita memenangkan persaingan ini ? Hal ini penting untuk dipertanyakan, sebagai langkah antisipasi ke depan. Sebab, tanpa usaha ini, tidak mustahil mahasiswa kita akan terasing di “rumahnya sendiri”, karena tidak memenuhi logika persaingan dan tidak memenuhi selera pasar. Untuk itu, diperlukan berbagai informasi penting mengenai berbagai kiat dan strategi dalam peningkatan kualitas kelembagaan kemahasiswaan, khususnya berkaitan dengan life skills. Dengan pengembangan program yang bermuara pada life skills, diharapkan diperoleh berbagai informasi yang dapat menjadi “nafas baru” bagi peningkatan kualitas lulusan, khususnya dibidang kewirausahaan (interpreunership), sehingga mereka bisa mandiri dan mampu memenangkan persaingan dalam brbagai sektor kehidupan. Semoga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *