PARADIGMA KRITIS TRANSFORMATIF, Sebuah Alternatif Pemikiran Kontekstual

Judul ini mengandung interpretasi bahwa, dalam kondisi kekinian, diperlukan adanya pemikiran kontekstual untuk membangun cara pandang terhadap realitas social secara kritis, dengan meletakkan Islam sebagai pencarian kebenaran, dan pendakian kebenaran pesan Islam diperlukan banyak pintu. Disinilah diperlukan keberanian untuk membuka pintu-pintu itu, paling tidak, pintu berfikir dan refleksi atas sumber-sumber ajaran agama. Untuk itu, kajian ini akan memfokuskan pada paradigma kritis atas teologi tranformatif. Dengan ini diharapkan, akan ditemukan berbagai alternatif pemikiran untuk memaknai Islam secara lebih terbuka sesuai realitas sosial (kontekstual) yang menyertainya.

Menurut Moeslim Abdurrahman (1995), paradigma ’’Teologi tranformatif’’ dibangun atas dasar kepedulian akan keterbelakangan umat Islam di dunia sekarang. Keterbelakangan itu disebabkan oleh kebodohan dan ketertutupan dalam memahami ajaran agamanya sendiri. Itulah yang membuat umat Islam tertinggal dari kemajuan yang dicapai Barat. Sebagai solusi dari persoalan tersebut, maka umat Islam perlu merubah pola pikir dari tradisional ke moderen.

’’Modernisasi Islam’’ cenderung melakukan liberalisasi pandangan yang adaptif terhadap kemajuan zaman tanpa harus meninggalkan sikap kritis terhadap unsur negatif dari proses modernisasi. Bagi kalangan “modernisasi Islam”, persoalannya adalah bagaimana dengan tradisi teks dapat mengembangkan pesan Islam dalam konteks perubahan sosial ? Hal ini sangat berbeda dengan kalangan “Islamisasi’ yang cenderung berupaya menggali teks dalam rangka mengendalikan perubahan sosial. Oleh karena itu, kalangan terakhir ini cenderung lebih dulu merumuskan ukuran normatif di berbagai bidang kehidupan termasuk ilmu, teori ilmu-ilmu sosial, sistem ekonomi, politik, bahkan busana, sehingga ditemukan corak yang lebih “khas Islam”. Oleh karena kecenderungan “Islamisasi” berangkat dari teks atau bersumber wahyu, wataknya sangat totalistis, yang dalam semua segi kehidupan harus diresapi dengan norma Islam, sehingga sangat tidak mungkin munculnya ruang yang kosong untuk menerima kenyataan yang bersifat partikular (Nurcholish Madjid, 1995). Sedangkan paradigma “modernisasi” dalam pemikiran Islam tampaknya lebih menampilkan kelenturan, keterbukaan dalam menghadapi dunia yang plural dan terus berubah. Di sini, para pemikir “modernisasi Islam” tidak menaruh ambisi meng-islamkan setiap aspek kehidupan. Sebab otoritas agama sebagai ad-Din dan perkembangan aspek sosial umat Islam mempunyai basisnya sesuai dengan konteks zamannya.

Sebagai contoh, kata Nurcholish Madjid (1987), hubungan antara agama dan negara bukanlah hubungan saling menguasai, namun satu sama lain bersifaf dialogis terus menerus. Begitu pula hubungan antara ideologi dan agama. Bahkan Nurcholish Madjid dalam soal negara menganggap hal ini bersifat instrumental, dalam arti hanya alat untuk mewujudkan masyarakat etis yang diridhai Tuhan. Adapun dalam soal ini, Moeslim Abdurrahman (1996)  melihatnya sebagai hubungan yang komplementer, satu sama lain saling membutuhkan.
Kalangan “Islamisasi”, seperti telah diungkapkan di atas, menurut Cak Nur (Nurcholish Madjid biasa dipanggil) sebenarnya lahir dari kekhawatiran bahwa Barat telah merasuki peradaban kaum muslimin dengan sifat yang dekaden terhadap agama. Modernisasi pada dasarnya adalah peradaban Barat yang macet, karena perangkat materialistis tidak memberikan masa depan agama. Oleh karena itu, Islam harus mencari altematif terhadap sekularisme dan ideologi Barat yang tidak manusiawi, yaitu dengan menggali dan membangun norma-norma Islam dalam segala aspek kehidupan. Jadi, ada titik tolak yang berbeda, karena dalam hal ini ada kerangka definisi yang berbeda terhadap realitas. Paradigma “modernisasi’ seolah-olah menilai bahwa kemunduran umat Islam disebabkan persoalan kejumudan dalam menanfsirkan cara Islam menatap perubahan zaman. Sedangkan “Islamisasi” lebih melihat ancaman Barat yang sangat dominan dan umat Islam harus berlindung menyelamatkan identitas dan otentitas ajaran agamanya.
Dalam keadaan situasi perkembangan umat Islam diwarnai dengan dua paradigma di atas, akhir-akhir ini tampak ada kecenderungan baru melalui isu pengembangan “teologi kontekstual” (Moeslim Abdurrahman, 1995). Atau penganjurnya kadang-kadang menyebutnya sebagai “teologi pembangunan” atau ada juga sebagai “teologi transformatif’. Jika orientasi paradigma “modernisasi” lebih bertolak dari isu tentang kebodohan, keterbelakangan dan kepicikan, dan paradigma “Islamisasi” mengambil topik persoalan norma, antara yang “Islami” dan yang “tidak lslami”, atau mana yang “asli” dan mana yang bid’ah, maka “teologi transformative” lebih menaruh perhatian terhadap persoalan keadilan dan ketimpangan sosial saat ini. Itulah yang dianggap sebagai agenda besar yang menjadikan banyak umat manusia tidak mampu mengekspresikan harkat dan martabat kemanusiaannya.
Bagi kalangan “teologi transformatif”, manurut Moeslim Abdurrahman (1995) semua persoalan peradaban manusia sekarang ini dianggap berpangkal pada persoalan ketimpangan sosial-ekonomi, karena adanya struktur yang tidak adil. Terdapatnya sejumlah orang yang jauh dari agama. antara lain disebabkan oleh faktor adanya jarak sosial-ekonomi yang cukup berjarak antara mereka yang dhuafa’ dan pusat-pusat ortodoksi agama. Secara fisik, misalnya, jarak antara masjid dan pasar itu umumnya sangat dekat. Namun secara sosial-ekonomis tidak jarang banyak bakul gendongan enggan berteduh di situ, bahkan merasa maqom-nya tidak patut harus bergaul dengan orang-orang “saleh” yang, berkecukupan hidupnya. Kesalehan seringkali harus diartikan dengan biaya mahal, karena harus membayar zakat, memakai surban haji; atau harus pergi ke sekolah agama yang jauh untuk menjadi seorang alim. Dalam kaitan ini, yang lebih tragis, jika agama ikut terlibat dalam proses ketimpangan sosial itu (Moeslim Abdurrahman, 1996). Struktur yang timpang, bagi kalangan “teologi transformatif” bahkan dipandang sebagai bagian dosa Barat yang membawa ide modernisasi. Sebab modernisasi dalam prakteknya sering melakukan eksploitasi, dengan sumber-sumber informasi dan ekonomi hanya dikuasai sekelompok orang elite yang dengannya mereka mengontrol sejumlah orang yang hidup tanpa kesempatan dan harapan untuk mengubah masa depannya.

Menurut Moeslim Abdurrahman (1995), kalangan “Teologi Transformatif” menyatakan bahwa agama dalam proses modernisasi sekarang ini, paling tidak melahirkan tiga corak, yaitu: Pertama, tampil sebagai alat rasionalisasi atas modernisasi atau modernisme, dengan melahirkan perkembangan teologi rasional yang mengacu pada tumbuhnya kepentingan intelektualisme sekelompok akademikus. Kedua, sebagai alat legitimasi atas nama melancarkan dan mendukung berhasilnya program-program modernisasi. Program-program ini dirancang dan dilaksanakan secara teknokratis berdasarkan paradigma pertumbuhan ekonomi, dan bukan untuk pertumbuhan nilai-nilai dasar pembangunan harkat kemanusiaan sendiri. Dalam konteks seperti ini, corak teologi yang dominan adalah teologi paralelisme yang bersifat justifikatif. Ketiga, kelompok masyarakat tertentu, terutama “kaum dhuafa’”, yang tidak terserap ke dalam dialog besar proses modernisasi dewasa ini, terpaksa menghanyutkan diri dalam impian teologi eskatologis yang bersifai eskapistis. Mereka tidak jarang menunjukkan sikap hidup fatalistic bahwa “dunia hanyalah tempat bersinggah untuk minum”; bahwa “dunia hanyalah penjara bagi orang-orang yang beriman dan surga bagi orang-orang kafir”, dan lain sebagainya. Jadi agama dalam tiga corak di atas tidak berangkat atau menyentuh problem yang ada dalam realitas. Agama berhenti dan hanya asyik mempersoalkan kerangka utopis pada tingkat super-struktur. Dalam situasi yang semacam itu, teologi harus dirumuskan kembali berdasarkan realitas struktural yang benar-benar hidup dalam kenyataan sehari-hari dan dihadapi oleh kelompok-kelompok masyarakat Indonesia.

Semoga kita menjadi bagian dari orang-orang yang bertaqwa dan selalu dalam lindungan-Nya. Amiin yaa rabbal ‘alamin.

Daftar Bacaan :

Abdurrahman, Moeslim (1995). Islam Transformatif. Jakarta : Pustaka Firdaus.
_______________, (1996). Semarak Islam Semarak Demokrasi ?. Jakarta : Pustaka Firdaus.
Madjid, Nurcholis (1987). Islam Kemoderenan dan Ke-Indonesiaan. Bandung : Mizan.
_______________, (1995). Islam Agama Kemanusiaan, Membangun Tradisi dan Visi Baru Islam Indonesia. Jakarta : Yayasan Wakaf Paramadina.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *