Upaya Menanamkan Nilai-nilai Ilahiyah dan Insaniyah Melalui Pendidikan Agama di Sekolah

Dengan melihat realitas, kita akan menyaksikan betapa runyamnya pelanggaran nilai-nilai agama di belahan muka bumi ini. Misalnya  perampasan hak, perkosaan, perampasan kebebasan, pencurian, penggunaan obat terlarang, minum-muniman keras, perkelahian, dsb. Ditambah lagi dengan adanya berbagai tindakan yang tidak etis yang dipertontonkan oleh para pejabat dan tokoh masyarakat yang hampir merajalela di berbagai sektor kehidupan, mengakibatkan runtuhnya martabat bangsa ini.

Kondisi tersebut menunjukkan indikasi bahwa pendidikan agama yang berlangsung selama ini belum memberikan hasil yang optimal dan sesuai sasaran. Ternyata ilmu dan teknologi tidak mampu memberikan makna peningkatan kecerdasan yang sebenarnya, kalau tidak disertai dengan pendidikan agama yang kokoh. Untuk itu, disinilah pentingnya pendidikan dan pembelajaran agama diberikan sejak dini di keluarga dan sekolah, agar mereka mempunyai kesadaran nilai-nilai agama yang tinggi, yang pada gilirannya diharapkan dapat memotivasi mereka untuk berperilaku yang baik sesuai dengan kerangka normatif agama.

Di samping itu, perlu disadari bahwa pendidikan dan pembelajaran agama bukan sesuatu yang hanya ditambahkan, melainkan justeru merupakan sesuatu yang hakiki dalam seluruh proses pendidikan. Terlebih lagi bila diingat bahwa, arus materialisme dan konsumerisme  secara global terus mengikis nilai-nilai luhur dari kehidupan manusia, tidak hanya yang tinggal di kota-kota besar, bahkan sudah menyentuh desa-desa yang terpelosok sekalipun. Oleh sebab itu, pendidikan dewasa ini sungguh-sungguh menghadapi tantangan yang luar biasa berat, terutama dalam membangun kehidupan bersama yang damai dan aman.

Pendidikan dan pembelajaran agama bertujuan mengembangkan dan menanamkan watak berahlak sesuai dengan kerangka normatif agama dan berusaha merubah perilaku seseorang dalam arti luas dan jangka waktu yang lama. Untuk itu, pendidikan dan pembelajaran agama dapat  berhasil jika siswa ada disposisi batin yang benar (syahadah) untuk menghayati sekaligus melaksanakan akan makna kehidupan yang disinari nilai-nilai ilahiyah dan insaniyah berdasarkan pendidikan agama yang diterima.

Dalam penghayatan dan pelaksanannya, nilai-nilai tersebut tidak dapat dipaksa dari luar, melainkan masuk ke dalam hati siswa secara lembut ketika hatinya secara bebas membuka diri (self awareness). Dengan demikian, pendidikan dan pembelajaran agama akan bermakna kalau dapat menginternalisasi atau mempribadi pada diri siswa.

Disinilah pentingnya penanaman nilai-nilai agama yang kokoh. Dengan nilai-nilai yang kokoh, maka agama akan mempribadi pada diri siswa, yang pada akhirnya akan menjadi kekuatan penggerak untuk melakukan amal shaleh dan akhlakul karimah.

Dalam menghadapi tantangan global sekaligus realitas sosial yang semakin meningkat intensitasnya tersebut, GPAI harus mampu berperan secara otimal dalam menjalankan  fungsi-fungsinya. Dengan mengadaptasi pemikiran Tilaar (1998), paling tidak ada tiga fungsi GPAI  , yaitu: (1) sebagai agen perubahan, (2) sebagai pengembang sikap moral, dan (3) seorang guru profesional.

Pertama, sebagai agen perubahan. Dalam masyarakat global seperti sekarang ini, tidak ada sosok lain selain GPAI yang dapat berfungsi secara efektif untuk menjadi agen perubahan, karena GPAI langsung dapat berhadapan dengan siswa (generasi muda) bahkan masyarakat pada umumnya. Seorang GPAI yang intelek dan berdedikasi tinggi merupakan unsur yang paling terdepan dan strategis dalam membawa siswa menuju pribadi muslim yang setiap gerak langkahnya selalu bersendikan nilai-nilai religius.

Kedua,  sebagai pengembang sikap moral. Secara jujur perlu kita akui, bahwa sekarang ini masalah kerjasama antar siswa mulai terabaikan. Pertengkaran antar teman terjadi di mana-mana, baik di sekolah maupun luar sekolahi. Bahkan kalau tidak diantisipasi secara dini, tidak mustahil akan muncul pembunuhan, perkosaan, pencurian, dan minum-minuman keras  di lingkungan sekolah. Dalam kondisi yang demikian, peran GPAI sangat diperlukan untuk menanamkan sikap saling pengertian dan tolerasi terhadap sesama siswa. Disinilah diperlukan hubungan antar siswa yang “dewasa”, artinya perlu ditumbuhkan sikap saling menghargai perbedaan dan kekurangan di antara sesama siswa tanpa memandang perbedaan klas sosial, agama, suku, ras, dan asal usulnya.

Ketiga, seorang guru profesional. GPAI adalah salah satu guru pada suatu institusi pendidikan. Dia dianggap profesional, bilamana memiliki daya abstraksi dan komitmen tingkat tinggi (Glickman, dalam Bafadal, 1999). Dengan kata lain, GPAI dikatakan profesional kalau dia memiliki kemampuan dalam mengerjakan tugasnya dan memiliki komitmen yang tinggi untuk mengerjakan tugas berdasarkan kemampuannya.  Seorang GPAI yang profesional akan senantiasa melakukan sesuatu yang benar dan baik (do the right thing and do it right). Konsekuensinya adalah dia harus selalu mengembangkan tingkahlaku dan tindakan strategis yang cermat dalam upaya membangun biah islamiyah dan uswah hasanah di lingkungan sekolah. Atau dengan kata lain, dia dapat bekerja keras dan cerdas. Bekerja keras menunjuk pada kemampuan untuk malaksanakan tugas secara sungguh-sungguh, cepat dan berbobot, sedang bekerja cerdas adalah melaksanakan sesuatu berdasarkan pertimbangan peluang dan tantangan yang terjadi, sekaligus mampu membaca “tanda-tanda zaman”, artinya apa yang dikerjakan mempunyai nilai strategis untuk masa kini dan yang akan datang dalam upaya pembentukan jiwa religius siswa.

Untuk mendukung tiga fungsi tersebut, maka GPAI harus mempunyai seperangkat kemampuan yang tercermin dalam pengetahuan, sikap, dan ketrampilan sebagai berikut: (1) bahwa seorang GPAI mempunyai sifat-sifat fisik yang memungkinkan dia dapat membimbing siswanya yang sedang dalam tahap perkembangan fisik dan moralnya, mempunyai ciri-ciri kepribadian yang kuat dan seimbang, dan mempunyai visi tentang etika tingkah laku manusia sebagai individu dan  anggota masyarakat; (2) bahwa GPAI dituntut untuk mampu membawa siswa memasuki dunia ilmu dan teknologi yang terus berkembang, sebab apabila guru tidak menguasai ilmu dan teknologi yang kuat, mustahil hal itu dapat dilakukan; (3) bahwa penguasaan metodologis bagi GPAI sangat diperlukan untuk membangkitkan semangat dan menimbulkan prakarsa belajar agama siswa; dan (4) bahwa seorang GPAI harus berusaha untuk meningkatkan kualitas diri secara berkesinambungan dengan mengikuti perkembangan ilmu, teknologi dan seni, karena ilmu pendidikan dan kependidikan serta perangkat pendukungnya terus berkembang pesat seiring dengan berkembangnya masyarakat menuju globalisasi dan informasi (Ghofir, 1999).

Keunggulan guru agama dalam menjalankan tugas dan tanggungjawabnya di sekolah bukan terletak semata-mata pada pendidikan yang tinggi, tetapi pada keikhlasan, keridlaan dan komitmen dalam mengabdi yang ditopang dengan profesionalisme dan wawasan yang luas. Apabila GPAI mampu memenuhi hal tersebut, saya yakin akan mampu melaksanakan penggilan suci dalam menyiapkan siswa menjadi unggul dalam spiritual, emosional, intelektual, dan moral. Untuk itu, semua tugas dan tanggungjawab yang diemban hendaknya tidak dijadikan beban, tetapi harus dinikmati sebagai panggilan suci semata-mata untuk beribadah kepada Allah swt, sehingga secara terus-menerus akan selalu menjalankan tugas mendidik dan mengajar dengan tulus dan ikhlas.

Menurut Al-Maududi (1983) pendidikan agama yang mengandung nilai-nilai ilahiyah dan insaniyah yang patut diajarkan di sekolah yang diambil dari sumber ajaran agama Islam antara lain adalah :

  • Penghayatan akan makna iman dan taqwa, agar anak mempunyai komitmen akan ajaran agamanya
  • Sikap tolong-menolong dalam berbuat kebajikan, agar anak peka akan realitas sosial yang terjadi di sekelilingnya
  • Sikap khusnudhon (baik sangka), agar nilai-nilai ukhuwwah tetap terjaga
  • Menghargai diri dan orang lain, agar nilai-nilai insaniyah dapat bersemayam pada diri setiap anak
  • Menerima tanggungjawab bagi perbuatan yang dilakukan sendiri, agar tumbuh kesadaran bahwa segala amal perbuatan selalu mempunyai efek dan impact dalam kehidupan
  • Sikap positif terhadap guru dan teman sekelas, agar tumbuh sikap tawadhu’ kepada orang yang lebih tua dan toleran kepada sesama
  • Menjaga milik sendiri dan menjaga milik teman lain, agar tumbuh jiwa amanah pada diri anak
  • Ketepatan waktu mengerjakan tugas pelajaran, agar tumbuh dan terbiasa sikap disiplin dalam menjalankan segala aktivitas kehidupan
  • Bersikap jujur, adil, dan bijaksana kepada diri sendiri dan orang lain, agar tumbuh rasa muru’ah, iffah, dan sajaah pada diri anak.

Sikap-sikap tersebut hendaknya sudah ditanamkan kepada siswa sejak dini. Dengan ini diharapkan siswa dapat mempersepsi dunia berdasarkan kerangka normatif agama yang diyakininya.

Semoga Allah swt selalu memberikan taufiq dan hidayah kepada guru-guru kita, khususnya guru agama, amiin 3X.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *