Menyambut Hari Kartini : “MENDIDIK PEREMPUAN ADALAH MENDIDIK BANGSA”

Dalam rangka menyambut hari Kartini yang jatuh setiap tanggal 21 April, kami mencoba menghadirkan tulisan mengenai perempuan. Sebagaimana dalam judul, pernyataan “mendidik perempuan berarti mendidik bangsa”, ini lebih dekat dengan dimensi spiritual, emosional, dan sosial, karena mendidik perempuan berkaitan dengan ketaatan ibadah, keutuhan, kesehatan,  keselamatan, dan kesejahteraan keluarga, yang selanjutnya berdampak pada masyarakat, bangsa dan negara. Dalam menyelamatkan anak bangsa, perempuan mampu memainkan peranan penting dalam berbagai aktifitas yang tidak mungkin dilakukan oleh laki-laki, seperti selalu mengawasi anak dalam beribadah setiap hari, mengajari sopan santun, dalam aktifitas ekonomi, seperti membantu penyediaan pangan, dalam kesehatan selalu perhatian terhadap gizi anak, melakukan asah-asih-asuh pada anak, memberi kasih sayang, mengajari anak berkomunikasi dengan orang lain, dsb. Untuk itu, sesuatu hal yang harus menjadi perhatian utama adalah pendidikan perempuan. Sebab dengan pendidikan perempuan yang bagus akan berdampak pada berbagai dimensi kehidupan yang bermuara pada keimanan, kesehatan, kesejahteraan, dan keselamatan bangsa dan negara (Achmad, 1999).

Mendidik perempuan berarti mendidik bangsa itu artinya mendidik satu perempuan akan berdampak luas pada anak-anak mereka. Dari anak-anak itu kemudian berkembang menjadi dewasa yang tidak mustahil akan mewarnai perjalanan bangsa dan negara. Secara psikologis, perempuan (ibu) lebih dekat pada anak-anak mereka, sehingga akan mudah untuk menyampaikan pesan-pesan spiritual, emosional, dan sosial pada anaknya. Secara sosio-kultural-religius perempuan jauh lebih penting dan utama untuk mengasuh anak, sedang suami bekerja untuk mencari nafkah, daripada perempuan yang bekerja, suami yang mengasuh anak. Namun yang baik ada keselarasan dan sinergi yang positif antara laki-laki (suami) dengan perempuan (isteri), sehingga keduanya saling mengisi dan melengkapi dalam bekerja atau mengasuh anak (Hubais, 1999).

Sedang mendidik laki-laki kecenderungan akan berimbas pada diri sendiri. Karena secara psikologis, laki-laki lebih cenderung memperhatikan pada tataran makro atau publik yang kadang-kadang lepas dalam pola pengasuhan anak. Sedang secara sosio-kultural-religius laki-laki sebagai penaggungjawab keluarga yang otomatis akan bekerja sekuat tenaga untuk mencukupi kebutuhan keluarga, sehingga waktunya lebih banyak dihabiskan untuk bekerja daripada mengasuh anak (Suparno, 1999).

Tidak semua perempuan mampu berperan sebagai pendidik bangsa. Mereka yang mampu kecenderungannya adalah yang mempunyai pendidikan cukup. Mereka yang mempunyai pendidikan yang cukup akan mengetahui apa yang harus dia lakukan dalam mendidik anak bangsa, mengapa melakukan itu, bagaimana melakukannya, berapa biaya yang harus dilakukan untuk melakukan itu, kapan dan dimana melakukannya, dan bagaimana cara mengetahui hasilnya (mengevaluasi) (Suparno, 1999). Dengan demikian, ada tujuan, materi, metode, media, dan evaluasi yang jelas mengenai peran pendidikan yang dimainkan dalam pendidikan anak-anaknya dalam rangka menyiapkan generasi masa depan bangsa dan negara. Ini sekaligus menunjukkan bahwa, perempuan dalam keluarga dan masyarakat secara sadar atau tidak sadar telah menciptakan situasi pendidikan yang mendukung tumbuh suburnya ketercapaian tujuan pendidikan beserta unsur-unsur di dalamnya, dalam menciptakan anak bangsa yang cerdas dan bermoral yang mampu mengisi pembangunan dengan hiasan akhlak mulia.

Nilai-nilai yang terwakili dari perempuan adalah keinginan bersama (kemitrasejajaran) dalam membangun bangsa dan negara. Perempuan mendapatkan kesempatan yang sama dalam mengisi pembangunan, yang terrefleksi dalam bentuk hubungan saling menghargai, menghormati, mengisi dan membantu antara lain dalam pengambilan keputusan penentuan kebijaksanaan dan pelaksanaan serta pemanfaatan hasil pembangunan. Dengan demikian akan tercipta: (1) peningkatan kualitas perempuan sebagai sumber daya manusia pembangunan yang handal, (2) peningkatan kualitas dan perlindungan tenaga kerja wanita (TKW) di semua sektor kerja, (3) peningkatan peran ganda perempuan dalam keluarga dan masyarakat, (4) terciptanya pengembangan iklim sosio-kultural-religius yang mendukung kemajuan perempuan dalam segala bidang, dan (5) terrealisasinya kelembagaan dan organisasi perempuan secara lebih produktif dan inovatif (Suroyo, 1999).

Dalam kasus ke-Indonesia-an hal ini dapat dilacak secara historis mengenai pahlawan pendidikan perempuan. Untuk menyebut diantaranya yang terkenal adalah Kartini, sebagaimana kita memperingatinya sat ini setiap tanggal 21 April. Kartini adalah sosok perempuan yang telah berhasil mendidik kaumnya dalam upaya pencerahan terhadap pentingnya pendidikan, disamping juga kaum laki-laki (Suparno, 1999). Hal ini terbukti dengan banyaknya laki-laki yang pada mulanya kurang sadar tentang pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan (baik untuk isteri, saudara, maupun anak perempuannya), kemudian banyak yang berbalik menjadi sadar. Ini memberikan implikasi bahwa, pendidikan Kartini sebagai tokoh perempuan tersebut tidak hanya ditujukan pada kaumnya semata, tetapi kepada seluruh anak bangsa. Sedang secara kekinian, dimana pendidikan perempuan sudah meningkat, maka kesadaran akan tugas dan tanggungjawab terhadap keluarga semakin tinggi. Hal ini terbukti dengan banyaknya perempuan yang berperan ganda dan berhasil dalam mengantarkan anaknya menjadi “orang”. Disamping mereka bekerja untuk menambah pendapatan keluarga, juga tidak melupakan tugasnya sebagai ibu yang berkewajiban untuk mengasuh anak-anaknya, sehingga anaknya rajin ibadah, ber-akhlak bagus, dan mencapai prestasi akademik gemilang di sekolah. Ini memberikan implikasi bahwa, perempuan sekarang mempunyai kesadaran yang tinggi untuk menciptakan anak-anak berkepribadian muslim, yang mampu membangun bangsa dan negara di masa depan. Berdasarkan penelitian, ternyata banyak perempuan yang sudah memahami bahwa, anak merupakan “asset”  yang tidak ternilai harganya bagi keluarga. Anak yang berhasil dalam hidupnya (nilai spiritualnya tinggi, pendidikan tinggi, jabatan strategis, dan kekayaan melimpah) akan dapat mengangkat harkat dan martabat keluarga. Dengan pemahaman ini, banyak perempuan yang rela membanting tulang demi pendidikan anak-anaknya (Suparno, 1999). Bahkan ada yang sampai rela menjual diri, demi keberhasilan pendidikan anaknya, sebagaimana yang dialami oleh salah seorang PSK di Komplek Pelacuran Dolly Surabaya masa lalu, sebagaimana dimuat dalam Memorandum tanggal 15 Januari 2001. Sungguh suatu pengorbanan yang luar biasa, demi keberhasilan anaknya, agar anaknya tidak terjerumus dalam lembah dosa seperti dirinya.

Untuk itu, marilah peringatan hari Kartini yang ke 136 (Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879  dan meninggal di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904, pada umur 25 tahun) ) ini kita jadikan momentum untuk introspeksi diri, sekaligus apresiasi terhadap perempuan-perempuan Indonesia yang telah berhasil mengantarkan keluarga menjadi sukses dhohiron wa bathinan, fi al-din, wa al-dunya, wa al-akhiroh. Amiin 3X,

2 thoughts on “Menyambut Hari Kartini : “MENDIDIK PEREMPUAN ADALAH MENDIDIK BANGSA”

  1. Iya betul sekali Mas Mgus Maimun kenyataannya seorang laki-laki terkadang hanya bisa mempengaruhiseorang saja sedangkan seorang perempuan dapat mempengaruhi seisi rumah/keluarga. Oleh karena itu tidak heran jika agama Islam memberikan pahala yang utama ketika mendidik anak perempuan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *