Menyambut Hardiknas 2015: PENDIDIKAN DAN PENINGKATAN MARTABAT MANUSIA

Sejak manusia menghendaki perkembangan dan ke­majuan, maka sejak itu timbul ide untuk melakukan pengalihan, pewarisan, pelestarian dan pengembangan kebudayaan melalui pendidikan. Maka dari itu, dalam sejarah pertumbuhan masyarakat, pendidikan selalu mendapat perhatian yang utama dan serius dalam rangka me­majukan kehidupan generasi demi generasi sejalan dengan tuntutan dan kemajuan masyarakat.

Dengan melihat sejarah, pembentukan masyarakat di mulai dari keluarga Adam dan Hawa,sebagai unit ter­kecil dari masyarakat besar umat manusia di bumi. Dalam keluarga Adam inilah di mulainya proses pendidikan, rneskipun dalam ruang lingkup yang terbatas sesuai dengan kebutuhan untuk mempertahankan hidupnya.

Dasar minimal usaha mempertahankan hidup manusia terletak pada orientasi manusia ke arah 4 hubungan. yaitu: (1) Hubungan manusia dengan Allah, (2) Hubungan manusia dengan manusia, (3) hubungan manusia dengan alam sekitar, dan (4) Hubungan manusia dengan dirinya sendiri.

Hubungan manusia dengan Allah memberikan implikasi bahwa manusia sebagai makhluk harus selalu menghambakan siri kepada Allah, dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Hubungan kedua, memberikan implikasi bahwa manusia adalah makhluk sosisal yang tidak akan bisa hidup dengan sendirinya. ia akan selalu membutuhkan bantuan dengan sesamanya. Hubungan antar manusia ini tercermin dalam sikap saling membutuhkan. hormat menghormati dan memberi-menerima untuk bisa menjaga ketentraman dan kebahagiaan hidup. Hubungan ketiga memberikan implikasi bahwa manusia diharapkan dapat memanfaatkan alam yang telah disediakan oleh Allah secara lengkap untuk mendukung kehidupannya. Untuk itu manusia harus menjaga, memanfaatkan, dan melestarikan sebaik-baiknya, sehingga terkendali dari sikap-sikap pengrusakan alam. Hubungan ketiga ini selaras dengan tugas ke-khalifahan manusia di bumi. Hubungan keempat memberikan implikasi bahwa manusia harus sadar akan keterbatasan dirinya, sehingga ia tidak murka dan sombong yang mengakibatkan kehidupan menjadi tidak seimbang. Keterbatasan diri ini juga memberikan pengertian pada hak dan kewajiban manusia yang harus dilaksana­kan dengan tidak mengganggu kepentingan sesamanya.

Keempat hubungan ini merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam diri manusia, sehingga menjadi bagian dari kepribadiannya. Dalam arti, jika manusia berhubungan dengan Allah (beribadah) kemudian mengabaikan hubungan dengan manusia, begitu juga sebaliknya, maka dia telah melakukan kesalahan yang besar. Tetapi hubungan itu harus berjalan secara simultan sesuai dengan perbuatan yang dilakukannya.

Prinsip hubungan tersebut, mendorong manusia me­ngembangkan proses pertumbuhan kehidupannya yang lebih baik. Proses inilah yang mendorong manusia ke arah ke­majuan hidup sejalan dengan tuntutan yang semakin meningkat. Kemajuan ini akan bisa dicapai, kalau manusia mempunyai modal yang cukup untuk dijadikan sarana me­lestarikan hubungan itu. Hubungan akan terjadi selama manusia itu hidup atau dengan kata lain hubungan itu harus dilaksanakan sepanjang hidup manusia. Jika ia berhenti dari menjalin hubungan ini atau melakukan hubungan yang menyalahi atau bertentangan dengan kodrat kemanusiaannya, maka ia telah turun derajat kemanusiannya. Untuk menjaga hubungan itu, maka diperlukanlah pendidikan. Pemahaman pendidikan dalam kehidupan manusia tidak­lah terjadi secara tiba-tiba. la akan melalui suatu proses yang sangat panjang. Di satu sisi, proses itu akan di awali ketika manusia baru lahir atau yang lebih jauh lagi ketika si calon manusia ada di dalam kandungan. Ketika di dalam kandungan, si caIon manusia sudah men­jalin hubungan dengan Allah dan sesama manusia dalam arti ibunya. Baru sesudah lahir manusia akan berhubungan dengan alam sekitar dan dirinya sendiri. Di sisi lain, proses itu di awali dari yang sederhana yang berlangsung pada kondisi yang sederhana, kemudian berkembang pada kemampuan teoritis dan praktis berdasarkan konsep­-konsep berfiikir ilmiah.

Konsepsi berfikir ini lahir dari perkembangan ke­cerdasan manusia yang semakin meningkat sejalan dengan proses kehidupan yang semakin maju. Kemajuan itu sendiri bisa dicapai kalau adanya pemikiran tentang pendidikan, sehingga dapat ditarik benang merah bahwa pendidikan merupakan hasil proses berfikir manusia dalam kehidupan. Dalam proses kehidupan, manusia tidak hanya akan memikirkan pendidikan, tetapi juga akan berfikir tentang aspek yang lain. Tetapi sebenarnya kalau kita telusuri lebih jauh, pemikiran yang lain inipun bermuara juga pada pendidikan. Contoh, manusia berfikir t.entang kehidupan akhirat atau kehidupan sesudah mati. la bisa berfikir yang demikian, karena adanya pendidikan (agama). Tanpa bimbingan pendidikan manusia tidak akan mampu menangkap sesuatu itu. Tetapi dalam realitasnya. ternyata manusia juga memikirkan bermacam-macam bidang, baik itu sosial, budaya, ekonomi, dsb. Semua itu adalah keseluruhan yang menjadi agenda pemikiran manusia dalam kehidupan. Jadi nampak bahwa, pendidikan merupakan bagian dari proses kehidupan yang menjadi agenda pemikiran manusia juga, bahkan mungkin yang paling utama.

Pada dasarnya, manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk dalam bentuk yang sebaik-baiknya, melebihi dari makhluk yang lain, seperti hewan dan tumbuh-tumbuhan. Terlebih lagi, Allah memberikan keistimewaan pada manusia dengan akal, kesanggupan membedakan mana yang baik dan buruk, mampu menerima ilmu dan berbagai pengetahuan, sehingga mampu melahirkan gagasan-gagasan dan pemikiran-pemikiran baru yang strategis untuk menguasai jagat raya. Di samping itu, manusia mempunyai kemampuan dan jangkauan untuk meraih segala­nya melalui akal yang dimilikinya.

Ketentuan Allah mengenai kualitas manusia seperti tersebut, mengandung konsekuensi harapan, bahwa dalam mengarungi perjalanan hidup, manusia harus tetap dalam ‘bentuk yang sebaik-baiknya’ dan tidak rnenjurus pada ‘kedudukan yang serendah-rendahnya’. Implikasinya ialah pendidikan diharapkan mampu mengamankan kualitas manusia dalam ‘bentuk yang sebaik-baiknya’, sehingga terhindar dari segala bentuk pencemaran.

Bentuk pencemaran dari manusia adalah menentang ajaran Allah dalam kehidupan. Ajaran-ajaran Allah selalu kepada kebaikan dan keselamatan dalam kehidupan di dunia dan akhirat. Sebab kadang-kadang manusia Iupa, bahwa sebenarnya ia mempunyai tanggung­ jawab dalam menjaga dirinya dari kehidupan yang hina, agar ia bisa mencapai tujuan hidup yang berarti. Tujuan hidup manusia yang realistis adalah meningkatkan rnartabat kemanusiaan diri sebagai manusia (Soelaeman, 1988: 73).

Tujuan ini mengandung pengertian adanya upaya manusia untuk selalu menjadikan dirinya lebih baik dari pada posisi kemanusiaannya. Sebab kalau manusia ter­jerumus pada persoalan yang keluar dari kodratnya sebagai rnanusia, maka dia telah meletakkan dirinya pada derajat hewan atau dengan kata lain ia berada pada posisi ‘manusia berkualitas hewan’. Untuk menjaga agar manusia tidak terpeleset pada derajat ini, maka ia harus membekali diri dengan seperangkat ilmu dan pengetahuan, yang hal ini dapat diperoleh melalui pendidikan. Pendidikanlah yang mampu rnengantarkan manusia pada posisi yang baik. Pendidikan harus ditegakkan dan di­tumbuhkembangkan pada setiap manusia, agar ia betul-betul bisa menjadi manusia. Pendidikan di sini mempunyai arti yang sangat luas, baik pendidikan formal maupun informal, pendidikan sekolah maupun luar sekolah, atau pendidikan keagamaan maupun non-keagamaan.

Semua bentuk dan jenis pendidikan tersebut harus digaIi, dipahami, dan dilaksanakan secara seimbang, dalam arti pelaksanakan pendidikan harus dilandasi dengan semangat ibadah, agar manusia mempunyai semangat untuk berjuang dalam wilayah pendidikan. Jika ini betul-betul dilaksanakan,. maka manusia akan meningkat derajat dan martabatnya. Sebab menurut Soelaeman (1988) bahwa peningkatan martabat manusia disadari atau tidak adalah merupakan upaya mendekatkan diri pada Allah swt., dengan jalan berbuat yang sesuai dengan apa yang dikehendaki atau digariskan-Nya, dengan kehidupan yang menuju ridha-Nya. Hidup secara demikian, kiranya sejalan dengan perealisasian diri sebagai manusia, sebagai makhluk yang selalu mengabdi dan berjuang untuk pencerdasan anak bangsa menuju pintu-pintu hidayah dan maunah Allah swt.

Dalam perspektif keagamaan kita, manusia diciptakan oleh Allah di dunia tidaklah tanpa tugas dan tanggung jawab. Manusia mempunyai seperangkat tugas dan tanggung jawab yang harus di­laksanakan agar ia tetap survival dan bisa menjaga kelestarian alarn ini. Alam ini diciptakan sebenarnya yang lebih utama diperuntukkan kepada manusia untuk dinikmati sebaik-baiknya. Bagaimana pengelolaannya,  diserahkan kepada manusia sesuai dengan hukum-hukum Allah. Agar manusia bisa mengelola alam dengan baik, maka ia harus rnempunyai seperangkat pengetahuan yang me­rnungkinkan dapat dijadikan modal untuk melaksanakan tugas pengelolaan. Pengetahuan ini akan bisa di­ peroleh dengan pendidikan. Pendidikanlah yang akan me­nunjukkan kepada manusia ilmu pengetahuan untuk bisa rnemberikan rnanfaat dalam melaksanakan missinya.

Tetapi kadang-kadang justeru manusia melakukan sebaliknya, yakni rnelanggar tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. la berbuat semaunya tanpa ada kendali yang dapat mengekang kemurkaan dan kelalimannya. Manusia yang demikian adalah manusia yang telah men­jadikan kodratnya sebagai manusia makhluk ciptakan Allah yang terbaik di antara makhluk-makhluk yang lain menjadi tak bermakna. la telah menghilangkan sifat ke­manusiaannya. Berarti ia telah merendahkan martabatnya sendiri. Martabat yang seharusnya dijunjung tinggi agar tetap survival sebagai makhluk ciptakan Allah yang paling baik telah dirusaknya. Untuk itu perlu ditumbuhkan ke­sadaran yang tinggi bagi manusia, agar ia memahami pentingnya pendidikan agar martabatnya tetap terjaga, bahkan akan meningkat derajatnya (sebagaimana janji Allah dalam surat al-Mujadalah ayat: 11), dari keadaan yang biasa kepada yang lebih baik, sehingga ia terhindar dari derajat ‘hewan’.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *