Menyambut Ramadhan : MEMBANGUN KESADARAN NURANI MELALUI PUASA

Puasa yang dalam Bahasa Arab disebut dengan shoum atau shiyam dan orang yang menjalankannya disebut shoim,  merupakan “ujian” dari Allah kepada manusia untuk dapat menahan diri dalam semua hal. Menahan diri dari rasa lapar dan dahaga, menahan diri dari sikap tama’ dan rakus, menahan diri dari membelanjakan harta yang berlebihan dan berakibat lupa terhadap tanggungjawabnya untuk mengentas para fakir miskin. Padahal dengan  puasa kita diharapkan untuk tumbuh sikap empati kepada orang miskin atau orang-orang yang tidak beruntung secara ekonomi.

Puasa yang mengajari kita makan 2 kali dalam sehari semalam melalui buka puasa saat maghrib tiba dan sahur pada saat malam menjelang subuh, sebenarnya menyadarkan kepada kita, bahwa banyak di kalangan masyarakat kita yang hanya punya kesempatan kesehariannya menikmati makanan sangat terbatas. Kita yang hanya satu bulan makan 2 kali sehari semalam, kadang-kadang  terasa berat. Padahal masih banyak  masyarakat kita yang setiap hari, karena keterbatasan ekonomi, hanya mampu makan 2  kali sehari. Dari sinilah kita sebenarnya disadarkan nurani kita   untuk tumbuh sikap empati, merasakan seperti yang dirasakan kaum papa yang hanya mampu makan 2 kali sehari. Untuk itu, kita diharapkan dapat menyisihkan sebagian dari kelebihan makan kita 1 kali (dari yang biasa makan 3 kali sehari menjadi 2 kali sehari di kala puasa) untuk  menjadi zakat fitrah. Jadi zakat fitrah sebenarnya kumpulan dari kelebihan makan kita selama satu bulan atau 30 hari  puasa, sehingga hukumnya wajib.

Kenapa zakat fitrah hukumnya wajib dan diberlakukan sama semua orang berupa beras atau makanan pokok 2,5 kilogram ? Karena di samping memenuhi syariat Islam sebagai pelengkap puasa, juga merupakan kelebihan makanan kita sendiri. Rasionalnya, kalau makanan kita setiap hari itu kita piringkan, maka kelebihan makanan kita dalam 1 bulan adalah 30 piring. 30 piring kalau untuk ukuran normal itu merupakan pengolahan dari 2,5 kilogram beras. Karena ukuran zakat fitrah itu piring, maka semua orang diberlakukan sama 2,5 kilogram. Untuk itu, nilai moral yang bisa kita ambil dalam puasa ini adalah makanlah dengan ukuran piring yang normal, tidak melebihi takaran yang lazim dalam makanan yang menggunakan piring.

Namun demikian sebagai hiasan puasa agar lebih bermakna, sehingga  mencapai derajat muttaqin (QS: al-Baqarah, 183), maka dianjurkan bagi setiap muslim untuk memperbanyak sedekah dan melaksanakan ibadah-ibadah sunah lainnya.  Bersedekah pada dasarnya juga membangun sikap empati kepada orang  yang lemah. Untuk itu, puasa harus selalu bermuara pada sikap empati.

Beruntunglah bagi kita yang dapat berpuasa selama bulan Ramadhan, karena puasa itu bukan saja dapat membersihkan rohani manusia, agar lebih tenang dan khusu’ dalam beribadah,  juga akan membersihkan jasmani dari penyakit-penyakit fisik yang dapat mengganggu aktifitas dalam beribadah. Sebagai alat penyembuh yang baik, puasa disarankan untuk makan makanan yang bergizi dan mengandung unsur-unsur yang dapat menyehatkan badan. Karena memang tubuh kita memerlukan makanan yang bergizi, agar selalu sehat dan daya tahan tubuh kita semakin kuat.  Jika kita makan berlebih-lebihan dan kurang bergizi, sudah barang tentu akan membawa madzorot kepada kesehatan kita. Dapat menyebabkan badan menjadi gemuk, sakit jantung, darah tinggi, penyakit kencing manis, dan berbagai penyakit lainnya. Oleh karena itu, dalam berpuasa kita dianjurkan makan secara sederhana, tidak ishrof,  terutama sekali ketika berbuka.

Berpuasa juga dapat merehatkan alat pencernaan lebih kurang selama 12 jam setiap harinya. Oleh karena itu dengan berpuasa, organ dalam tubuh kita dapat bekerja dengan lebih teratur dan metabolisme berjalan dengan lancar.

Lebih dari pada itu, ibadah puasa juga melatih kita untuk sabar dalam menjalani hidup. Maksud dari sabar yang tertera dalam al-Quran adalah ‘gigih dan ulet’ seperti yang dimaksud dalam QS. Ali ‘Imran: 146 “Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” Kenapa perlu sabar, karena sabar sebenarnya adalah kunci dari segala perilaku seseorang. Untuk itu, orang yang sabar selalu menjadi kekasih Allah “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar (QS. Al-Baqarah: 153).

Puasa juga memberikan hikmah dan faedah kepada kita agar kita bisa menguasai diri, mendidik nafsu agar tidak senantiasa dimanjakan dan dituruti, mendidik jiwa agar dapat memegang amanat dengan sebaik-baiknya, dan mendidik ketabahan. Lebih dari pada itu, puasa juga mendidik kita untuk menyampaikan rasa syukur atas segala nikmat Allah yang dikaruniakan kepada kita berupa kesehatan, keamanan, dan rizki, sehingga kita dapat berbuka puasa dengan rasa senang dan gembira.

Dari uraian tersebut, nampak bahwa puasa memberikan pendidikan kepada kita tentang nilai ilahiyah dan nilai insaniyah. Sebagian dari nilai itu adalah taqwa sebagai hasil akhir dari puasa, juga sikap empati dan sabar. Kedua sikap terakhir inilah yang mampu membangun kesadaran sosial kita dalam menghadapi kehidupan yang serba keras dan penuh persaingan. Semoga kita selalu mendapatkan kekuatan untuk dapat menjalankan ibadah puasa secara khusu’ dan istiqomah. Amiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *