Pengembangan Sumber Daya Manusia di PTKI

Kalau kita cermati bersama, maka tantangan utama Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI), baik negeri maupun swasta, sekarang atau masa depan adalah kualitas sumber daya manusia (SDM). Hal ini terbukti dengan masih sedikitnya tenaga pengajar di PTKI yang bergelar doktor dan profesor. Untuk mewujudkan PTKI yang kompetitif dan unggul era globalisasi adalah dengan menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas. SDM yang berkualitas, disamping pendidikan dan gelar akademik yang memadai, juga harus ditunjang dengan penguasaan terhadap IPTEKS dan sekaligus mampu mengembangkan IPTEKS untuk meningkatkan kesejahteraan kehidupan masyarakat, bangsa, dan umat manusia pada umumnya. Atau dengan kata lain SDM yang bekualitas adalah yang melek IPTEKS. Tentunya melek IPTEKS yang tetap memegang nilai-nilai moral yang kokoh dan bersendikan nilai ajaran agama.

Lebih daripada itu, PTKI harus menyiapkan manusia unggul. Manusia unggul adalah manusia yang dapat bersaing dan manusia yang berpikir kreatif. Manusia unggul tidak lain daripada manusia yang berkualitas, artinya manusia yang dapat mengembangkan potensi yang ada padanya seoptimal mungkin, sehingga dengan potensinya itu dia dapat bersaing dengan manusia lainnya. Dengan potensi yang berkembang itu dia dapat mengadakan pilihan-pilihan yang tepat. Sedang manusia kreatif adalah manusia yang dapat bersaing dan dapat memunculkan kreasi-kreasi baru

Hal tersebut merupakan konsekuensi logis dari era globalisasi. Ada beberapa dampak globalisasi yang harus pula dicermati oleh tenaga pengajar di PTKI, yaitu: (a) ancaman terhadap budaya bangsa dan nilai-nilai moral agama; (b) lunturnya identitas bangsa; dan (c) lunturnya kesadaran terhadap wawasan nusantara.

Sejalan dengan persoalan tersebut, maka PTKI  harus menyiapkan tenaga pengajar yang handal. Tenaga pengajar yang handal harus mengindikasikan hal-hal sebagai berikut: (1) landasan moral yang kokoh untuk melakukan “jihad” dan mengemban “amanah“; (2) kemampuan mengembangkan jaringan-jaringan kerjasama atau “silaturrahim“; (3) membentuk team work yang kompak; (4) mencintai kualitas yang tinggi, dan (5) produktif dalam menghasilkan karya keilmuan (Tilaar, 1998).

Disamping itu, tenaga pengajar PTKI harus mempunyai sikap: (1) dedikasi dan disiplin dalam melaksanakan pekerjaan, (2) jujur dalam setiap aktifitas kehidupan, (3) inovatif dalam melihat persoalan kekinian yang kurang relevan, (4) tekun dalam menjalankan tugas dan kewajiban, dan (5) ulet dalam menghadapi realitas kehidupan (Tilaar, 1998).

Dengan adanya globalisasi dan pasar bebas, semakin terbuka lebar berbagai bidang kerja yang mengandalkan profesionalisme. Sebab orientasi berbagai lapangan kerja di era globalisasi dan pasar bebas akan lebih mengacu pada kualitas unggul. Untuk itu, PTKI  harus berorientasi pada upaya melahirkan sarjana yang betul-betul profesional dibidangnya, sehingga tidak terpaku pada disiplin ilmunya semata atau memasuki sektor informal, tetapi juga bisa masuk kepada semua sektor formal dan non-formal, termasuk sektor-sektor moderen.

Dengan berpijak pada pemikiran tersebut, menunjukkan banyak peluang bagi PTKI dan sekaligus tantangan. Sebagai peluang, kalau PTKI mampu mengantarkan lulusannya untuk memenangkan persaingan meraih peran-peran strategis.  Sebagai tantangan, kalau dia tidak mampu memenangkan persaingan, maka akan menjadi kelompok marginal (pinggiran) dan hanya menjadi penonton dalam panggung sejarah kehidupan.

Kalau yang terakhir ini terjadi, maka pupuslah sudah harapan untuk ikut serta mengisi formasi masyarakat baru, dan kita siap-siap untuk berada di halaman belakang rumah kita sendiri, karena halaman depan rumah kita sudah tergadai oleh orang lain. Namun yang perlu diingat bahwa, untuk mencapai semua itu syarat yang harus dipenuhi adalah profesionalisme, intelektualitas, moralitas, dan spiritualitas yang tinggi. Untuk itu, PTKI harus mampu memberikan bekal kepada lulusannya dengan seperangkat kemampuan, misalnya kemampuan menganalisis situasi social (mengetahui tanda-tanda zaman), berbahasa asing, manajerial, dan ketrampilan praktis, agar dia bisa survival di tengah-tengah maraknya suasana globalisasi.

Lebih daripada itu, PTKI dalam era globalisasi dan pasar bebas akan semakin terbuka untuk mengembangkan diri tanpa harus dihambat oleh berbagai peraturan yang “menyesakkan”. Namun demikian, hal ini tidak akan memberikan makna yang signifikan kalau tidak didukung dengan kerja keras dan kerja cerdas. Untuk itu, perlu menyikapi segala peraturan sebagai pedoman, bukan hambatan, agar produktifitas dan inovasi lembaga tetap terjaga dengan baik.

Dalam membangun PTKI yang produktif dan inovatif, maka pengembangan SDM yang profesional menjadi keharusan. Karena profesionalisme merupakan syarat penting adanya dinamika kelembagaan.

Berkaitan dengan professionalisme ini, Muhaimin (2001) melakukan sintesis mengenai jalan yang terbaik untuk peningkatan dan perbaikan organisasi (termasuk pendidikan) secara terus menerus berdasarkan penelitian beberapa pakar pendidikan dan non kependidikan, seperti    Covey (1996), Drucker (1992), Senge (1990), Fullan (1993), Hammond (1996), Newman & Weblage (1995), dan Louis, Kruse & Raywid (1996)  sebagai berikut: (1) Hanyalah organisasi-organisasi atau lembaga-lembaga yang memiliki keinginan besar untuk belajar yang akan berpengaruh secara abadi, (2) Setiap perusahaan (termasuk usaha pendidikan) harus menjadi suatu institusi belajar dan institusi mengajar. Organisasi atau lembaga yang menciptakan suasana belajar secara kontinyu dalam pekerjaannya akan mendominasi abad 21, (3) Perusahaan yang paling sukses di masa depan akan menjadi suatu organisasi belajar, (4)  Problem baru dari perubahan ialah tindakan apa yang perlu diambil untuk membuat sistem pendidikan sebagai organisasi belajar, bukan hanya untuk menanggapi kebijakan tetapi juga sebagai cara hidup, (5) Jika lembaga pendidikan ingin mem-pertinggi kapasitas organisasinya untuk meningkatkan belajar peserta didik, mereka hendaknya bekerja atas bangunan suatu masyarakat yang profesional, yang bercirikan: adanya kesamaan tujuan, keinginan kolaboratif, dan tanggungjawab kolektif di antara staf, dan (6) Bagaimanapun pembaharuan lembaga pendidikan harus diarahkan pada upaya terwujudnya masyarakat belajar yang profesional.

Untuk mewujudkan semua itu, maka PTKI masa kini dan masa depan harus dikelola dengan manajemen moderen, yang sekarang ini dikenal dengan istilah Total Quality Education (TQE) sebagai adaptasi dari Total Quality Management (TQM). TQE adalah suatu pendekatan dalam menjalankan aktifitas pendidikan yang mencoba untuk memaksimumkan daya saing (competitiveness) lembaga pendidikan melalui perbaikan secara terus menerus atas lulusan, pelayanan, proses, dan lingkungannya. Dalam melaksanakan TQE, ada 10 prinsip utama yang harus menjadi perhatian, yaitu: (1) kepuasan pada konsumen (mahasiswa, wali, dan masyarakat), (2) obsesi terhadap kualitas, (3) pendekatan ilmiah, (4) komitmen jangka panjang, (5) kerjasama tim, (6) perbaikan sistem secara berkesinambungan, (7) pendidikan dan pelatihan, (8) kebebasan yang terkendali, (9) kesatuan tujuan antar berbagai unsur, (10) adanya keterlibatan dan pemberdayaan karyawan (Tribus, 1999).

Disamping itu, PTKI harus dapat menjadi  center of learning society. Artinya mampu menjadi perekat masyarakat dalam melaksanakan aktifitas pendidikan. Hal ini sebagai bentuk antisipasi  kecenderungan masyarakat masa depan, yang gandrung akan pendidikan. Tetapi bukan pendidikan formal dan reguler, namun pendidikan yang “membebaskan” yang mampu memberikan bekal wawasan dan informasi yang aktual dan pragmatis. Untuk itu, PTKI harus mampu melahirkan program dan produk yang bisa “dijual”, agar PTKI selalu menjadi tumpuan masyarakat yang ingin belajar.

Berkaitan dengan kegiatan pendidikan dan pembelajaran, agar PTKI mendapat simpati dan menjadi pilihan umat, maka harus mampu menghasilkan lulusan yang berkualitas. Lulusan yang berkualitas harus mencerminkan karakter sebagai berikut: (a) akhlakul karimah; (b) mandiri, jujur, disiplin, dan bertanggungjawab; (c) tidak pamrih; (d) cinta ilmu; (e) kritis dan suka bekerja keras. Juga yang tidak kalah pentingnya adalah, PTKI dalam menyongsong era globalisasi dan pasar bebas harus prospektif, atau mampu memenuhi tiga harapan masyarakat, yaitu mencerdaskan; menjanjikan, dan menginternalisasikan.

Mencerdaskan maksudnya, mampu memberikan bekal kepada mahasiswa ketrampilan berfikir secara kritis, analitis, progresif, inovatif, dan futuristik. Menjanjikan maksudnya, PTKI harus mampu memberikan jaminan akan lulusannya untuk berprestasi bagus dan trampil dalam memasuki sektor-sektor riil di masyarakat. Menginternalisasikan maksudnya, PTKI mampu memberikan seperangkat nilai kepada mahasiswa, agar mereka mampu mengambil pilihan-pilihan etik sesuai dengan nuraninya berdasarkan kerangka normatif agama.

Globalisasi dan pasar bebas, bagi PTKI bisa  jadi sebagai peluang sekaligus tantangan. Namun demikian, apapun resikonya pengembangan PTKI harus tetap berjalan seiring dengan semangat otonomi dan globalisasi. Sebab otonomi dan globalisasi  adalah sebuah keniscayaan yang mesti hadir dalam ruang kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Untuk itu, harus dihadapi dengan sikap optimis dan strategis serta antisipatif terhadap “tanda-tanda jaman”. Apabila PTKI mampu melakukan ini, tidak mustahil PTKI akan dapat bersaing dengan lembaga lain yang pada akhirnya akan menjadi pilihan umat. Indikasi pragmatisnya, setiap tahun jumlah pendaftar semakin meningkat secara signifikan dan lulusan yang dihasilkan dapat memasuki peluang-peluang kerja serta menjadi panutan di masyarakat.

Beberapa PTKI di Indonesia, sekarang ini mempunyai potensi sumber daya manusia yang dapat dibanggakan. Persoalannya adalah, bagaimana mengelola “potensi menjadi energi“ yang mampu membangkitkan semangat bekerja dan berkarya, sehingga mampu melahirkan karya-karya ilmiah yang fenomenal dan monumental. Untuk itu perlu kerja keras, kerja cerdas, kerja ikhlas, dan kerja tuntas  dari para pimpinan PTKI di Indonesia, agar PTKI ke depan menjadi lembaga pendidikan tinggi alternatif.  Semoga.`

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *