Renungan Ramadhan : Islam dan Peradaban Alternatif

Islam sering diartikan dengan selamat, tunduk, patuh, pasrah, dan menyerahkan diri. Ini artinya, satu sisi Islam mengajak kepada pemeluknya untuk berpegang pada agama Allah ini agar selamat di dunia dan akhirat. Di sisi lain, Islam mengajak umatnya untuk selalu tunduk, patuh, pasrah, dan menyerahkan diri sepenuh hati kepada Allah swt, yang diwujudkan dalam sikap dan perbuatan untuk selalu menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Kahadiran Islam (sebagai agama) di dunia, tidak sekedar memberikan perangkat penuntun untuk ibadah semata, tetapi juga muamalah yang ujungnya bisa melahirkan peradaban dunia yang unik dan khas. Keunikan dan kekahasan itu terletak pada kemampuan peradaban Islam untuk bersaing, bersanding, bahkan bertanding dengan peradaban barat, meskipun seringkali dalam perjalanannya mengalami jatuh-bangun. Namun demikian, orang tidak mudah untuk begitu melupakan peradaban emas yang berhasil ditorehkan umat Islam abad pertengahan bagi kemajuan umat manusia ini. Sebagai akibat dari kemajuan ini, pencerahan terjadi di segala bidang, khususnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahkan Sejarawan Barat beraliran konservatif, W Montgomery Watt menganalisa tentang rahasia kemajuan peradaban Islam. Dia mengatakan bahwa kemajuan itu salah satunya disebabkan oleh pemikiran bahwa Islam tidak mengenal pemisahan yang kaku antara ilmu pengetahuan, etika, dan ajaran agama atau dalam bahasa sekarang disebut dengan integrasi agama dan sains. Satu dengan yang lain, dijalankan dalam satu tarikan nafas yang sama. Pengamalan syariat Islam, sama pentingnya dan memiliki prioritas yang sama dengan riset-riset ilmiah untuk menemukan berbagai teori dan ilmu pengetahuan bagi kemakmuran umat manusia.

Menurut Syafii Ma’arif (1993) Islam bila dipahami secara benar dari sumbernya yang otentik, dapat ditawarkan untuk menjadi pilar peradaban alternatif bagi abad yang akan datang dengan syarat kita bersedia menghapuskan daki-daki sejarah yang melekat pada dirinya selama kurun waktu yang panjang dengan menempatkan Al Qur;an sebagai filternya yang paling utama. Ia juga mengatakan bahwa Islam bukan saja pernah menggugat, tapi juga memberi alternatif peradaban yang lebih ramah dan manusiawi. Bentuk peradaban itu salah satunya dibangun atas dasar kepedulian akan keterbelakangan umat Islam di dunia dibanding dengan umat lainnya. Keterbelakangan itu disebabkan oleh kebodohan dan ketertutupan dalam memahami ajaran agama Islam.  Itulah yang membuat umat Islam tertinggal dari kemajuan yang dicapai oleh peradaban Barat.

Senada dengan itu, Tholhah Hasan (2010) mengatakan bahwa perkembangan peradaban Barat sekarang memang lebih maju dibandingkan dengan peradaban Islam, terutama apabila indikator yang dipakai untuk mengukur kemajuan tersebut berupa perkembangan ekonomi, teknologi, dan stabilitas kehidupan sosial-politik yang dicapai dunia Barat sekarang. Namun apabila dikaji lebih dalam lagi, kemajuan sains dan teknologi yang menjadi basis fundamental bangunan peradaban Barat, justeru di sisi lain menelantarkan dunia di ambang pintu krisis global yang semakin mengkhawatirkan. Krisis global yang dihadapi umat manusia di planet bumi ini telah menyentuh hampir seluruh dimensi kehidupan, seperti pada bidang kesehatan, lingkungan hidup, teknologi, politik, ekonomi, dan sosial-budaya. Krisis yang terjadi di dunia sekarang juga melanda dimensi-dimensi intelektual, moral dan spiritual. Memahami peradaban Barat dengan segala kerapuhan fundamentalnya tersebut, menyadarkan kita para pemikir dan Ulama Islam, dalam menggunakan peluang besar ini untuk membangun peradaban alternatif yang berdimensi: iman, moral dan spiritual, di samping sains dan teknologi dalam arti yang luas. Agenda utama yang harus dikedepankan antara lain membangun kesadaran eksistensial manusia yang tidak terpisahkan dari Tuhan, dan dari alam semesta yang melingkunginya. Keyakinan terhadap kehadiran Tuhan dalam seluruh dimensi kehidupan ini akan memberikan kekuatan sekaligus kedamaian dalam hati setiap manusia yang menjadi aktor dan pendukung setiap peradaban.

Peradaban Islam memang peradaban emas yang mencerahkan dunia. Itu sebabnya menurut Montgomery, tanpa dukungan peradaban Islam yang menjadi ‘dinamo’nya, Barat bukanlah apa-apa. Wajar jika Barat berhutang budi pada Islam. Namun demikian, peradaban Islam itu kini mulai dihadapkan pada tantangan, bagaimana peradaban Islam mampu berinteraksi dengan peradaban lainnya, sehingga secara bersama-sama membangun peradaban dunia. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah melakukan modernisasi peradaban Islam.

Modernisasi Peradaban Islam, dalam faktanya sekarang ini telah melakukan liberalisasi pandangan yang adaptif terhadap kemajuan zaman tanpa harus meninggalkan sikap kritis terhadap unsur negatif dari proses modernisasi.  Bagi kalangan “modern Islam”, persoalannya adalah bagaimana dengan tradisi teks dapat mengembangkan pesan Islam dalam konteks perubahan sosial dan budaya ?  Hal ini sangat berbeda dengan kalangan “Islamisasi’ yang cenderung berupaya menggali teks dalam rangka mengendalikan perubahan sosial dan budaya.  Oleh karena itu, kalangan terakhir ini cenderung lebih dulu merumuskan ukuran normatif di berbagai bidang kehidupan termasuk ilmu, teori ilmu-ilmu sosial, sistem ekonomi, politik, bahkan busana, sehingga ditemukan corak yang lebih “khas Islam”.  Oleh karena kecenderungan “Islamisasi” berangkat dari teks atau bersumber wahyu, wataknya sangat totalistis, yang dalam semua segi kehidupan harus diresapi dengan norma Islam, sehingga sangat tidak mungkin munculnya ruang yang kosong untuk menerima kenyataan yang bersifat partikular atau kemajemukan.  Sedangkan paradigma “modernisasi” dalam pemikiran Islam tampaknya lebih menampilkan kelenturan, keterbukaan dalam menghadapi dunia yang plural dan terus berubah.  Di sini, para pemikir “modernisasi Islam” tidak menaruh ambisi meng-islamkan setiap aspek kehidupan.  Sebab otoritas agama sebagai ad-Din dan perkembangan aspek sosial umat Islam mempunyai basisnya sesuai dengan konteks zamannya (Nurcholis Madjid, 1987).

Kalangan “Islamisasi”, seperti telah diungkapkan di atas, sebenarnya lahir dari kekhawatiran umat Islam bahwa Barat telah merasuki peradaban kaum muslimin dengan sifat yang dekaden terhadap agama.  Modernisasi pada dasarnya adalah peradaban Barat yang macet, karena perangkat materialistis tidak memberikan masa depan agama (Nurcholis Madjid, 1995).  Oleh karena itu, Islam harus melahirkan peradaban altematif sebagai jawaban atas paham sekularisme dan ideologi Barat yang tidak manusiawi, yaitu dengan menggali dan membangun norma-norma Islam dalam segala aspek kehidupan.  Jadi, ada titik tolak yang berbeda, karena dalam hal ini ada kerangka definisi yang berbeda terhadap realitas (Tholhah Hasan, 2010).

Bagi kalangan umat Islam tertentu, semua persoalan peradaban ini dianggap berpangkal pada persoalan ketimpangan sosial-ekonomi, karena adanya struktur yang tidak adil.  Terdapatnya sejumlah orang yang jauh dari agama, antara lain disebabkan oleh faktor adanya jarak sosial-ekonomi yang cukup jauh antara mereka yang dhuafa’ dan pusat-pusat ortodoksi agama.  Secara fisik, misalnya, jarak antara masjid dan pasar itu umumnya sangat dekat.  Namun secara sosial-ekonomis tidak jarang banyak bakul gendongan enggan berteduh di situ, bahkan merasa maqom-nya tidak patut harus bergaul dengan orang-orang “saleh” yang berkecukupan hidupnya.  Kesalehan seringkali harus diartikan dengan biaya mahal, karena harus membayar zakat, memakai surban haji; atau harus pergi ke sekolah agama yang jauh untuk menjadi seorang alim.  Dalam kaitan ini, yang lebih tragis, jika agama ikut terlibat dalam proses ketimpangan sosial itu (Muslim Abdurrahman, 1995).

Struktur yang timpang, bagi kalangan tertentu bahkan dipandang sebagai bagian dosa Barat yang membawa ide modernisasi.  Sebab modernisasi dalam prakteknya sering melakukan eksploitasi, dengan sumber-sumber informasi dan ekonomi hanya dikuasai sekelompok orang elite yang dengannya mereka mengontrol sejumlah orang yang hidup tanpa kesempatan dan harapan untuk mengubah masa depannya.

Dalam proses modernisasi sekarang ini, menurut Cak Nur (1995) paling tidak melahirkan tiga corak, yaitu: Pertama, tampil sebagai alat rasionalisasi atas modernisasi atau modernisme, dengan melahirkan perkembangan teologi rasional yang mengacu pada tumbuhnya kepentingan intelektualisme sekelompok akademikus.  Kedua, sebagai alat legitimasi atas nama melancarkan dan mendukung berhasilnya program-program modernisasi.  Program-program ini dirancang dan dilaksanakan secara teknokratis berdasarkan paradigma pertumbuhan ekonomi, dan bukan untuk pertumbuhan nilai-nilai dasar pembangunan harkat kemanusiaan sendiri.  Dalam konteks seperti ini, corak teologi yang dominan adalah teologi paralelisme yang bersifat justifikatif.  Ketiga, kelompok masyarakat tertentu, terutama “kaum dhuafa’”, yang tidak terserap ke dalam dialog besar proses modernisasi dewasa ini, terpaksa menghanyutkan diri dalam impian teologi eskatologis yang bersifai eskapistis.  Mereka tidak jarang menunjukkan sikap hidup fatalistic bahwa “dunia hanyalah tempat bersinggah untuk minum”; bahwa “dunia hanyalah penjara bagi orang-orang yang beriman dan surga bagi orang-orang kafir”, dan lain sebagainya. Jadi agama dalam tiga corak di atas tidak berangkat atau menyentuh problem yang ada dalam realitas.  Agama berhenti dan hanya asyik mempersoalkan kerangka utopis pada tingkat supra-struktur.  Dalam situasi yang semacam itu, teologi harus dirumuskan kembali berdasarkan realitas struktural yang benar-benar hidup dalam kenyataan sehari-hari dan dihadapi oleh kelompok-kelompok masyarakat muslim (Muslim Abdurrahman, 1995). Dengan ini diharapkan, peradaban Islam menjadi alternatif, karena sanggup memberikan jawaban yang tepat terhadap tantangan  kemodernan, disamping juga selalu eksis dan  berjaya dalam menghadapi benturan peradaban barat.

Semoga kita menjadi bagian dari orang-orang yang mampu melahirkan peradaban Islam yang didasarkan pada nilai-nilai dan karakter Islam yang  religius, etis, dan humanis. Amiin yaa rabbal ‘alamin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *